Halaman Depan | Hubungi Kami Bahasa Indonesia | English
 
 
 
 
Halaman Depan
Tentang PPSK
Agenda
Berita
Artikel
Penelitian
Pelatihan
Advokasi
Publikasi
Perpustakaan
Dokumentasi
Links
Hubungi Kami
MAIN MENU

test baru

 
Berita
GLOBALISASI DAN PENDIDIKAN YANG KREATIF
Sumber : Nanang Pamuji Mugasejati, 8 juli 2007

Nanang Pamuji Mugasejati

"The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and
we
miss it, but that it is too low and we reach it."
-- Michelangelo

Kinerja ekonomi nasional kita di arena global, tampaknya belum juga
menggembirakan. Ini terlihat misalnya, dengan adanya kekhawatiran
bahwa target pertumbuhan ekspor tahun 2007 sebesar 14,5 persen tidak akan tercapai. Nada pesismis juga munculnya dalam melihat target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen. Salah seorang pengamat ekonomi mengatakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 masih timpang karena hanya ditopang konsumsi masyarakat, sementara kenaikan ekspor hanya tergantung pada harga komoditas dunia, bukan karena daya saing kita.

Creative Class
Diskusi kebijakan politik untuk menjawab pertanyaan tersebut sudah
banyak dilakukan. Namun di tingkat masyarakat, Salah satu kemungkinan
jawabannya adalah kita sedang mengalami krisis kreatifitas dan penyusutan jumlah masyarakat yang termasuk dalam kategori kelompok kreatif atau “kelas kreatif”. Siapakah mereka yang masuk sebagai kelas kreatif itu?

Richard Florida dalam bukunya, The Rise of the Creative Class, menyatakan bahwa perubahan penting dalam abad ke-21 adalah semakin kuatnya “kelas kreatif” sebagai pendorong roda ekonomi global. Mereka disebutnya sebagai “super-creative core”, yaitu mereka bekerja dalam sektor kreatif, mulai dari profesional, pebisnis, sampai yang bekerja pada
sektor seni, arsitek, desain dan lain-lain. Salah satu tugas mereka
adalah memberikan “nilai tambah” bagi produk atau jasa yang saat ini
telah diproduksi secara massal. Mereka adalah generasi pasca-Fordisme
yang bekerja melampaui proses otomatisasi industri.

Cukup menarik bahwa sejarah telah menunjukkan bahwa emigrasi kelas
kreatif ini (brain drain) yang terjadi akibat persoalan politik dan ekonomi di Eropa pada masa perang dunia kedua telah menguntungkan Amerika. Itulah sebabnya, Richard Florida termasuk tokoh yang kritis terhadap kebijakan imigrasi ketat AS setelah tragedi 11 September.
Menurutnya, dalam sebuah artikelnya di Harvard Business Review, ada
ancaman yang lebih serius daripada terorisme, yaitu ketika orang-orang
yang berbakat dan kreatif tidak mau lagi tinggal di negerinya sendiri.

Itu menjelaskan kenapa dalam Global Creative-class Index, posisi AS
hanya berada di urutan sebelas, jauh di bawah Irlandia, Finlandia dan
Kanada, serta Selandia Baru. Indeks ini membandingkan persentase orang
yang bekerja di sektor kreatif di sejumlah negara. Beberapa wilayah yang
disebut-sebut memiliki persentase kelas kreatif yang tinggi adalah Silicon Valley di California, Route 128 di Boston, Austin, Seattle, Bangalore, India dan Dublin, Irlandia.

Studi-studi yang lebih lanjut memperlihatkan bahwa daya saing global
suatu negara sangat berhubungan dengan persentase kelas kreatifnya.
Dalam kurun sejak 1990 sampai sekarang, persentase kelas kreatif di Selandia Baru naik dari 18,7 persen menjadi 27,1 persen. Sementara itu di
Irlandia, persentase tersebut naik dari 18, 7 persen menjadi 33, 5 persen.
Kota-kota besar yang maju dan kompetitif selalu memiliki persentase
kelompok kelas kreatif yang tinggi. Misalnya, Toronto (36,4%), Montreal
(35%), Vancouver (35,2%), Sydney (51,1%) kemudian Melbourne (49,5%).

Belajar dari India

Studi-studi yang lebih lengkap mengenai kelas kreatif di Indonesia
memang belum banyak dilakukan. Namun dengan menggunakan rumus bahwa daya saing global suatu negara sebanding dengan persentase kelas kreatifnya, kita dengan mudah bisa menduga bahwa saat ini di Indonesia sedang terjadi krisis kelas kreatif yang juga berarti krisis kreatifitas.

Dari mana datangnya krisis kreatifitas ini?

Secara teoretis ini bisa muncul dari adanya de-investasi dalam sektor
pendidikan dan riset-pengembangan dalam rangka menciptakan lebih banyak
infrastruktur kreatif. Faktanya memang demikian di Indoensia.

Kita masih berkutat dengan tarik-menarik politik untuk mencapai
tingkat anggaran pendidikan 20 persen. Perubahan status perguruan tinggi negeri juga membuat biaya masuk perguruan tinggi negeri semakin mahal.
Akibatnya, semakin kecil peluang kelompok miskin untuk mobilisasi vertikal menjadi kelas kreatif. Masuknya perguruan tinggi asing dalam playing field yang tidak seimbang ini, akan membuat Indonesia kembali menjadi koloni pendidikan.

Tetapi cukup mengherankan, bahwa penyakit yang kita alami ini tidak
dialami India, negara yang sedang mengalami “ledakan” jumlah kelas kreatif dan booming ekonominya. Sebuah riset oleh James Tooley dan Pauline Dixon berjudul Private Schools Serving the Poor menghasilkan kesimpulan yang mengagetkan. Riset ini mengambil sampel 265 sekolah SD dan SMP di kawasan kumuh Shadara Utara di New Delhi. Kebanyakan dari sekolah tersebut sama sekali tidak menerima bantuan subsidi dari pemerintah.

Dari hasil ujian matematika, bahasa Hindi dan Inggris dan IQ, ternyata
terbukti sekolah ini lebih unggul. Hasilnya sangat mengejutkan. Nilai matematika mereka 72 persen lebih tinggi dari murid sekolah negeri yang
disubsidi. Nilai bahasa Inggrisnya rata-rata 246 persen lebih tinggi dari
murid sekolah negeri!

Melihat prestasi sekolah swasta seperti itu, mungkin kesimpulannya
adalah sekolah tersebut adalah sekolah swasta mahal. Ternyata bukan. Yang terjadi di India adalah sebaliknya. Sekolah ini hanya menarik uang SPP
yang sangat kecil dan melayani anak para buruh kasar India. Gurunya digaji hanya seperlima gaji guru negeri.

Jadi, jangan membayangkan sekolah ini 'wah', seperti di Jakarta. Seorang peneliti India, Aditi Bhargava menggambarkan sekolah swasata itu
sebagai “often just holes in the wall or a room with a few benches populated
by eager children. They were not government funded or subsidized, nor did
they have world-class facilities”.

Lalu mengapa sekolah itu bisa menghasilkan kelas kreatif bertaraf
internasional seperti yang diakui sekarang? Salah satu jawabnya adalah
terjadi investasi motivasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di India.
Sekali lagi, investasi motivasi. Ada kreatifitas dan motivasi masyarakat
untuk lepas dari kemiskinan dan keterpurukan. Ada kelas kreatif yang mampu mereproduksi dirinya sendiri.

Kembali ke kutipan Michelangelo, bangsa ini sudah kehilangan motivasinya untuk mencapai tujuan dan impian yang tinggi. Gampang menyerah untuk untuk tujuan hidup yang rendah. Inilah akar dari krisis kreatifitas itu yang membuat kita terpuruk.

 
 
advokasi kebijakanperpustakaanpelatihanpenelitianpublikasi
 
 
Copyright©2007 Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan